Kamis, 08 September 2016

Membaca Pesan Simbolik Irwandi Yusuf di Taman Budaya



“Mengapa acara konferensi pers pasangan Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah dilangsungkan di Taman Budaya Banda Aceh?
Itulah pertanyaan yang muncul ketika membaca pesan dari WathApp. “Acaranya di Taman Budaya,” kata Munawar Liza Zainal.
Saya yang sudah berada di Taman Sari balik arah. Bukan menuju ke tempat acara, Taman Budaya, melainkan ke kantor. Badan yang agak meriang akhirnya menggiring saya ke selembar tikar di kantor, untuk istirahat.
Tapi, pertanyaan mengapa acara politik digelar di Taman Budaya masih menggeluti alam renungan saya.
Dari media online saya membaca berita, jika acara konferensi pers itu dibuka dengan suguhan Tari Guel. Alam renungan saya makin penasaran.
Terus terang, ini acara politik yang menarik, dan mengandung pesan simbolik yang amat kuat, menandakan gerak politik yang ingin dijalankan oleh pasangan yang juga mengandung aura dua kutub politik yang pernah terjadi dalam kisah sejarah di negeri ini, Aceh – Linge. Sama seperti aura politik yang ada pada pasangan Zaini Abdullah – Nasaruddin.
Dalam suasana hening di kantor, karena rekan-rekan sedang bertugas di luar, saya teringat renungan lama di Taman Budaya.
Dahulu, usai magrib semasa masih ada Hasyim KS dan Maskirbi, kami sering duduk-duduk sore atau usai magrib di salah satu sudut Taman Budaya. Ragam perbincangan mengalir bebas, dan sebagai anak muda kala itu saya lebih banyak menjadi penangkap pikiran yang mengalir.
Salah satu yang masih saya ingat adalah pernyataan yang mengatakan “politik tanpa budaya kering, dan budaya tanpa politik kabur.” Sayangnya saya lupa siapa yang mengucapkan quote itu.
Quote itu amat sangat mempengaruhi alam pikiran saya dikemudian hari. Bagi saya politik sejatinya adalah revolusi kebudayaan yang membutuhkan tersedianya kekuatan politik yang handal, sekaligus mengharuskan adanya gerakan kebudayaan yang terorganisir.
Politik dan budaya mestinya menjadi sahabat karib, dan keduanya mestilah saling melengkapi, saling mempengaruhi, tidak bisa dipisahkan, apalagi sampai saling cerai mati.
Sayangnya, politik di tangan orde baru, berhasil mencerai beraikan politik dan budaya. Nyaris keduanya menjadi dunia yang terpisah dan saling menjauh. Akibatnya, iklim pembangunan yang terbangun saat ini sepenuhnya konsumtivisme dan nir produktif.
Dua penyakit inilah yang kemudiaan menjadi penyebab negeri kita terus menerus terjebak dalam kekuasaan yang dikelola dengan tindakan koruptif, dan aparatur serta rakyat yang sebatas menjadi konsumen, termasuk sebatas menjadi konsumen politik.
Kekuasaan dijadikan kapital, dan partai politik menjadi basis produksi politisi-politisi yang menjadikan kekuasaan sebatas modal bagi pemenuhan konsumtivismenya, baik secara individu atau kelompok.
Kini, petani yang menggarap tanahnya makin berkurang, nelayan yang berlayar di laut makin sedikit, pedagang yang mengelola pasar dari kerja rakyat juga makin terbatas. Semuanya berlomba menjadikan APBA sebagai lahan utamanya.
Jadilah petani APBA, nelayan APBA, pedagang APBA, termasuk seniman dan budayawan APBA. Semua baru berkerja manakala ada dukungan APBA. Makanya, yang ditempuh adalah membangun relasi-relasi politik dengan para politisi.
Persembahan Tari Guel mungkin menjadi simbol bahwa pasangan Irwandi – Nova akan bersiap melakukan revolusi kebudayaan sebagai syarat perbaikan kekuasaan yang berbudaya. Irwandi Yusuf yang mewakili kutup kekuasaan (Aceh) dan Nova Iriansyah yang mewakili kutup kebudayaan (Gayo) akan menjadi simbol revolusi kebudayaan untuk menghasilkan kekuasaan yang lebih berbudaya.
Dari apa yang diwartakan portal antara tentang visi dan misi pasangan Irwandi-Nova saya menemukan spirit dan etik pertemuan politik dan kebudayaan yang menyatu.
“Pemerintahan yang bersih itu adalah pejabat yang ada di lingkungan Pemerintah Aceh khususnya berprilaku bersih dengan mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan kelompok dan pribadi,” kata Irwandi Yusuf yang turut didampingi bakal calon Wakil Gubernur, Nova Iriansyah.

Suasana kantor makin sepi, cuaca makin redup, tanda-tanda langit akan hujan sangat mungkin terjadi, dan badan yang meriang menuntun untuk segera pulang ke rumah. Kehendak untuk mencermati gerak politik kebudayaan pasangan Irwandi – Nova makin menjadi-jadi, dan berharap lewat Pilkada kali ini visi kebudayaan para kandidat dapat makin terbaca. Semoga! []

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Posting Komentar